. FORSAMAN: Nasib Ada Di Genggaman Kita Sendiri
Selamat Datang di Blog Forsaman Semoga Bisa Bermanfaat Kami Mohon Kritik Dan Sarannya Buat Kemajuan Bersama

Selasa, 03 Agustus 2010

Nasib Ada Di Genggaman Kita Sendiri

Dalam suatu masa, sering kita menyalahkan kondisi dan lingkungan atas kesialan dan kegagalan yang menimpa kita. Selalu saja ada alasan yang kita kemukakan, jika suatu keadaan tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Haruskah demikian ? Mari kita simak ilustrasi di bawah ini mengenai pengalaman dua orang pemuda yang mencari kebijakan hidup.Di sebuah desa, ada seorang tua yang sangat terkenal karena kebijakannya. Suatu ketika ada dua pemuda yang penasaran atas kebijakan orang tua tersebut. Mereka mendengar bahwa petuah dan wejangan orang tua tersebut selalu manjur untuk mengatasi berbagai macam persoalan hidup. Kedua pemuda itu selalu saling beradu argumentasi mengenai kebenaran kabar itu. 

Akhirnya mereka sepakat untuk membuktikan kebenaran berita tersebut dengan mendatangi kediamannya. Salah satu pemuda membawa sesuatu yang disembunyikan di belakang badannya. Pemuda itu tidak mau orang tua tersebut tahu apa yang dibawanya. 

Setelah kedua pemuda itu bertemu dengan orang tua tersebut, mereka mulai bertanya tentang hidup pada orang tua. Pertanyaan itu juga muncul sekaligus untuk menguji kebijakan orang tua itu. Ketika pertanyaan itu diajukan orang tua itu hanya tersenyum dan berkata bahwa dia hanyalah orang tua biasa dan tidak bisa mengajarkan apapun pada mereka berdua. Namun jika ada yang bertanya padanya, sebisa mungkin dia akan menjawab pertanyaan itu. 

Setelah mendengar jawaban itu, pemuda yang menyembunyikan sesuatu di balik badannya itu mulai bertanya kepada orangtua itu tentang kondisi burung yang ada dibalik badannya. Apakah burung itu masih hidup atau sudah mati ?

Sejenak orang tua itu menatap wajah pemuda itu dalam – dalam. Lalu orang tua itu mengatakan bahwa mati atau hidupnya burung itu ada ditangannya. Karena jika orang tua itu bilang bahwa burung itu hidup maka pemuda itu bisa saja dengan mudah membunuh burung itu hingga mati. Sedangkan jika orang tua itu bilang bahwa burung itu mati, maka pemuda itu akan dengan mudah melepaskannya diangkasa. Orang tua itu kemudian melanjutkan bahwa kehidupan manusia juga hampir sama dengan nasib burung itu. Nasib sebenarnya ada dalam genggaman tangan kita sendiri. Melalui tangan kita sendirilah nasib ini ditentukan. 

Mendengar jawaban penuh makna yang dikeluarkan orang tua itu, pemuda tadi langsung melepaskan burung dalam genggamannya. Kemudian ia dan temannya segera meminta maaf, karena telah lancang mencoba mengujinya. Setelah meminta maaf, mereka juga meminta agar dapat belajar lebih banyak lagi mengenai ilmu tentang kehidupan pada orang tua bijak itu. 

Tuhan tidak akan menngubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya. Ini adalah ajaran yang sangat mulia yang menjadi cermin bahwa sebenarnya kita sendirilah yang menentukan nasib baik - buruk, senang – susah serta gagal - sukses. Semua itu tergantung pada bagaimana kita menyikapi hidup dan kehidupan. Maka marilah kita perkaya mental kita dengan terus berjuang tanpa henti untuk menentukan nasib sendiri. Kita lepaskan belenggu keinginan bergantung kepada orang lain dan menggantikannya dengan tekad dan keyakinan diri, guna meraih sukses seperti yang diinginkan. (hac)

Tidak ada komentar: